Mereka yang Akan Mewarisi Bumi: Suara Generasi Z dari Pekan Lingkungan Hidup 2026
By Admin

Pekan Lingkungan Hidup dan Envirotech 2026
nusakini.com, Di tengah keramaian Pekan Lingkungan Hidup dan Envirotech 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), perhatian pengunjung tidak hanya tertuju pada deretan teknologi pengendalian pencemaran, inovasi energi bersih, atau pameran lingkungan yang memenuhi ruang-ruang pameran.
Ada pemandangan lain yang justru memberi harapan.
Ribuan anak muda memadati arena kegiatan. Mereka berjalan dari satu stan ke stan lainnya, mencatat informasi, berdiskusi dengan para ahli, mencoba berbagai teknologi ramah lingkungan, dan bertanya tentang masa depan bumi yang akan mereka warisi.
Dari lebih dari 4.000 peserta yang hadir selama penyelenggaraan pada 11–13 Juni 2026, sekitar 3.000 di antaranya merupakan pelajar dan mahasiswa. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai pengunjung. Mereka datang membawa rasa ingin tahu, kegelisahan, sekaligus harapan terhadap masa depan lingkungan Indonesia.
Di antara ribuan peserta itu, berdiri seorang siswi SMP yang menyampaikan pandangan sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.
Namanya Sharela Ninja Maesori, siswi SMP Negeri 170 Jakarta.
Bagi Sharela, menjaga lingkungan bukan sekadar slogan yang diucapkan saat peringatan Hari Lingkungan Hidup. Ia memandang lingkungan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
"Kita harus tetap menjaga lingkungan. Intinya, kita perlu berpikir lebih kreatif tentang bagaimana membuat lingkungan menjadi lebih baik," ujarnya.
Sharela mengaku sering mendengar berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara, sampah plastik, hingga perubahan iklim. Namun baginya, berbagai persoalan tersebut tidak boleh berhenti sebagai bahan keluhan.
Generasi muda, menurutnya, harus berani menjadi bagian dari solusi.
"Kalau polusi udara semakin tinggi, dampaknya langsung dirasakan oleh kesehatan kita. Apa yang kita lakukan terhadap lingkungan hari ini pada akhirnya akan kembali kepada kita sendiri," katanya.
Ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan tersebut tersimpan kesadaran yang penting: bahwa krisis lingkungan bukan lagi persoalan masa depan yang jauh, melainkan kenyataan yang sedang dialami saat ini.
Kesadaran serupa tampaknya menjadi alasan mengapa Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memberikan ruang yang lebih besar bagi Generasi Z dan Generasi Alpha dalam penyelenggaraan Pekan Lingkungan Hidup tahun ini.
Saat membuka kegiatan, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, menyampaikan apresiasi atas tingginya partisipasi generasi muda dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, generasi muda justru menunjukkan kepedulian yang semakin kuat terhadap isu lingkungan.
"Generasi muda justru lebih peduli terhadap lingkungan dibanding generasi kami. Mereka akan mewarisi bumi ini, sehingga suara, gagasan, dan kepemimpinan mereka sangat penting," ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan menghadapi krisis iklim tidak cukup dilakukan oleh pemerintah, akademisi, atau aktivis lingkungan semata. Masa depan bumi juga ditentukan oleh mereka yang hari ini masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi.
Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa menegaskan bahwa investasi terbesar dalam perlindungan lingkungan sesungguhnya bukan hanya pada pembangunan teknologi, melainkan pada pembangunan kesadaran manusia.
"Generasi Z dan Generasi Alpha adalah generasi yang akan menentukan wajah lingkungan Indonesia dalam 20 hingga 30 tahun mendatang. Karena itu, pendidikan dan keterlibatan mereka menjadi sangat penting. Jangan sampai kita mewariskan air mata kepada anak cucu akibat kerusakan lingkungan yang kita biarkan terjadi hari ini," ujarnya.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika dunia menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Sampah yang terus meningkat, pencemaran udara di kawasan perkotaan, krisis air bersih, hingga perubahan iklim merupakan persoalan yang dampaknya akan paling lama dirasakan oleh generasi muda.
Karena itulah, keterlibatan ribuan pelajar dan mahasiswa dalam Envirotech 2026 memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar jumlah peserta. Mereka sedang belajar memahami persoalan lingkungan sekaligus mempersiapkan diri menjadi bagian dari solusi.
Envirotech 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang tahun ini mengusung tema global “Inspired by Nature for Climate, For Our Future” dan tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim.”
Tema tersebut mengandung pesan bahwa masa depan iklim tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar atau teknologi canggih. Masa depan juga dibangun melalui jutaan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
Ada sebuah pepatah dari Brasil yang berbunyi, “Um rio é feito de muitas gotas” — sungai besar terbentuk dari banyak tetes air.
Demikian pula masa depan bumi. Ia dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama: mengurangi sampah, menghemat energi, menanam pohon, menjaga sungai, dan mengubah pola hidup menjadi lebih berkelanjutan.
Di tengah berbagai kabar tentang krisis iklim dan kerusakan lingkungan, kehadiran ribuan anak muda di Pekan Lingkungan Hidup 2026 menghadirkan secercah optimisme.
Harapan itu terlihat dari rasa ingin tahu mereka, dari keberanian mereka bertanya, dan dari keyakinan bahwa masa depan masih dapat diperbaiki.
Di wajah-wajah muda seperti Sharela, tersimpan keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin dimulai dari satu langkah kecil.
Sebab pada akhirnya, bumi bukanlah warisan yang bebas kita habiskan. Bumi adalah titipan yang suatu hari harus kita serahkan kepada generasi berikutnya.
Pertanyaannya sederhana: ketika saat itu tiba, apakah kita akan mewariskan bumi yang layak dihuni, atau justru mewariskan air mata?
Surabaya, 24 Juni 2026
Penulis: Yusrinus Ade Stirman, Penyuluh Lingkungan Ahli Muda Pusdal LH Jawa